5 PM
March 8th, 2011 § Leave a Comment
17.00
Seperti biasa, aku masih juga nangkring di depan laptop. Ini semacem ritual harian yang akhir-akhir ini aku lakuin, di awal semester baru, mumpung belum ketiban tugas yang bejibun dan kegiatan yang nguplek. Bukan karena ngerjain tugas atau main game, tapi buat online. Login, logout. Login, logout. Bolak-balik keluar masuk. Dan ini kulakuin dari sekitar jam 5 sore. 17.00.
Sebenernya nggak ada alasan yang spesifik kenapa aku ngelakuin ini, tapi ada satu hal pasti yang bikin aku bisa tahan ada di depan laptop dan kegiatan yang dilakuin cuman begitu aja. Yep, karena dia sedang online jam segitu.
Dia.
Ya, begitulah.
Masa lalu yang menggembirakan sekaligus suram. Menjadi bunga mawar sekaligus menjadi duri. Membuat semangat sekaligus membikin pusing kepala.
Jadilah aku, duduk termangu di depan laptop, dengan halaman situs pertemanan populer masa kini yang udah kebuka— dan tangan kanan megangin garpu stainless steel yang rasanya asem manis gara-gara bekas saus petis. Nunggu nama itu muncul di-list chat. Sambil sesekali beranjak ke meja makan nyocolin pempek bunder yang baru digoreng si mbak.
Beberapa menit kemudian, sesuai yang udah diprediksikan,
Dia muncul.
Sudah termangu, makin termangu. Sudah ndomblong, makin ndomblong. Sudah pelo, makin pelo. Tanganku udah nggak sabar buat ngeklik nama itu, tapi akal hati pikiran menolak. Aku nggak bisa. Jari-jariku kaku. Cuman bisa mandangin dan tahu kalau dia ada, masih bisa online, dan sehat walafiat.
Cause I still don’t know how to act
Don’t know what to say
Still wear the scars like it was yesterday
But you’re long gone and moved on
But you’re long gone and moved on
Freeze.
Bodoh. Bodoh empat kali (gosok-gosok tangan)
Hal ini udah terjadi berulang-ulang, walaupun kenyataannya intensitas dia online terbilang langka. Pas lagi kuliah, dia online. Giliran aku online, dia lenyap dari muka bumi. Tapi begitu sama-sama online, aku langsung berubah jadi batu. Lebih baik nggak online bareng daripada online bareng, karena kenyataannya malah membikin hati orang sakit. Sakitnya bukan karena dia, tapi karena aku yang nekat menyakiti diri sendiri.
Kata orang, cinta pertama itu harus dijaga. Kata komik juga gitu. Mungkin udah banyak diantara kita yang sudah menemukan ’first love’-nya masing-masing, ada yang bisa bersama mereka, ada juga yang enggak. Ada rasa seneng, sedih, kecewa, semangat, dan lain-lain yang sama-sama bisa dirasain sama semua orang yang sedang dilanda virus ini. Umur sama sekali nggak mengatur kapankah seseorang bakal mengalami virus ini, ada juga yang masih kecil tapi udah kena virus. Dan menurutku sampai sekarang aku juga masih penyakiten gara-gara virus ini.
Mungkin karena aku orang lemot, jadi sering telat menyadari sesuatu. Waktu sadar, baru tahu kalau semua udah terlambat. Baru tahu kalau jalan yang diambil salah. Baru tahu kalau semua itu ujung-ujungnya bakal bikin sakit. Seperti yang kualami 2,5 tahun yang lalu, waktu aku sadar kalau dialah orangnya. Waktu aku sadar kalau aku bisa merasa nyaman. Walaupun aku udah jelas tahu kalau aku nggak bakal bisa bareng dia, mungkin sampai kapanpun, dan saat itu juga aku nyadar kalau ini bukan sekedar cinta monyet. Sekaligus aku sadar kalau pada akhirnya nanti akulah yang bakal menyakiti diriku sendiri. Well, anggep aja aku telah gagal.
And I hurt so bad
But I search my skin
For the entry point
Where love went in
And ricoched and bounced around
You left a hole where you walked out
Kenyataannya sampai sekarang, aku belum bisa moved on. Jadi inget saran-saran yang pernah kuberikan sendiri ke salah satu sohibku yang ngaku udah suka seseorang selama 7 tahun. Setelah ngalamin sendiri, ternyata nggak gampang buat ngelupain semuanya. Padahal dulu aku sendiri yang berbusa-busa nyeramahin temenku buat moved on. Praktek emang lebih susah daripada teori ya.
Kembali ke laptop.
The power of rambut gila udah nggak bekerja lagi
Sirkuitnya kongslet
Aku takut jawaban yang keluar adalah sebuah simbol
Berupa tanda baca
Walaupun kecil tapi kemampuannya sudah seperti shotgun
?
Nggak lagi-lagi. Bener kata salah satu sobatku, yang begini ini jauh lebih menyakitkan daripada nggak direspon sama sekali.
But I still don’t know where to start, still finding my way
Still talk about you like it was yesterday
But you’re long gone and moved on
But you’re long gone, you moved on
Rasanya capek.
Aku memang nggak sekuat sohibku yang bisa tahan selama 7 tahun, dan akhirnya bisa dengan rela melepas dan menerima kalau orang yang disukainya akan menikah. Tapi rasanya sekarang udah waktunya untuk moved on. Aku pingin jalan seperti air yang mengalir, seperti daun yang diterbangkan angin. Apa adanya. Tapi aku bakal selalu ada buat mendoakan dia untuk yang dikasih yang terbaik. Asal dia bahagia, aku juga bakal bahagia kok. Kayak sinetron banget nih hahaha
Akhirnya, sampai di pukul 19.00.
Dia ilang ditelen bumi lagi. Akhirnya logout, dengan aku yang sedari tadi terus mikir sekaligus mandangin halaman chatnya yang akhirnya aku klik. Ya, dia emang selalu logout jam segitu, dan secara nggak sadar aku ngerasa agak kecewa. Lewat sinilah satu-satunya caraku buat berkontak dengan dia. Tapi satu kesempatan emas tadi udah dengan cuma-cuma aku lewatin.
Hmmm
Apa boleh buat. Ini jalan hidup yang harus dilewatin. Kadang aku berandai-andai, coba kalau aku nggak pernah kenal dia. Huah. Emang ya semua itu udah suratan. Mau sama siapa kita ngobrol hari ini, sama siapa kita ketemu, semuanya udah diatur. Tinggal gimana cara kita aja buat mengatur semuanya sebaik mungkin.
I’ll be looking at my window seeing Adelaide sky
Would you be kind enough to remember
I’ll be hearing my own foot steps under Adelaide sky
Would you be kind enough to remember me
Perhatian: aku nggak di Adelaide, dan aku juga nggak lagi jalan kaki. Aku di rumah dan lagi mantengin layar laptop, ngetik tulisan ini, dan sekali lagi, bawa-bawa garpu.
Yeah
Aku harap, kita bisa ketemu lagi dan ngobrol dengan enak ya. Bisa jadi temen baik lagi, guyon dan share bermacam hal lagi.
Semoga, suatu hari nanti.